Tema : Misi di Era GLobalisasi dan Migrasi
Teks : Lukas 24:44–47; Kisah Para Rasul 17:26–27
Di era globalisasi dan migrasi saat ini, dunia terasa semakin dekat. Perpindahan manusia antarbangsa terjadi setiap hari—karena pekerjaan, pendidikan, maupun berbagai keadaan hidup. Kota-kota besar, termasuk di Asia Tenggara, dipenuhi oleh beragam suku, bahasa, dan budaya. Dalam situasi seperti ini, kita perlu bertanya: apakah peran kita sebagai orang percaya di tengah dunia yang terus berubah?
Dalam Injil Lukas 24:44–47, Yesus menegaskan bahwa seluruh Kitab Suci berbicara tentang diri-Nya—tentang penderitaan, kebangkitan, serta berita pertobatan dan pengampunan dosa yang harus disampaikan kepada semua bangsa. Inilah dasar misi Kristen: Injil bukan hanya untuk satu kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh bangsa. Misi Allah selalu bersifat global dan menjangkau semua manusia.
Hal yang sama ditegaskan dalam Kisah Para Rasul 17:26–27. Paulus menjelaskan bahwa Allah menciptakan segala bangsa dan menentukan tempat serta waktu kehidupan mereka supaya mereka mencari dan menemukan Dia. Dengan demikian, perpindahan manusia bukanlah sekadar peristiwa sosial atau ekonomi. Di balik arus migrasi, ada karya dan rencana Allah agar semakin banyak orang memiliki kesempatan mengenal-Nya.
Globalisasi membuka peluang besar bagi pelayanan misi. Dahulu, seseorang harus pergi jauh ke negeri lain untuk menjangkau bangsa-bangsa. Kini, bangsa-bangsa hadir di sekitar kita. Tetangga, rekan kerja, atau teman belajar kita bisa berasal dari budaya dan negara yang berbeda. Bahkan gereja pun menjadi tempat berkumpulnya berbagai latar belakang. Semua ini merupakan kesempatan yang Tuhan berikan.
Namun tantangannya adalah: apakah kita peka melihat kesempatan tersebut? Ataukah kita justru menutup diri karena perbedaan budaya, bahasa, atau kebiasaan? Misi di zaman ini bukan hanya tentang “pergi,” tetapi juga tentang “menyambut.” Menyambut orang asing dengan kasih Kristus, membangun relasi, serta menjadi saksi melalui kehidupan sehari-hari.
Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk memandang dunia dengan perspektif Allah. Setiap perjumpaan lintas budaya dapat menjadi kesempatan menghadirkan Injil. Kita tidak harus menjadi pengkhotbah besar untuk bersaksi. Melalui kasih, perhatian, keramahan, dan kesediaan berbagi kabar baik, kita dapat menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang semakin global. Selain itu, kita juga dipanggil untuk mendukung para misionaris melalui doa dan dukungan nyata agar mereka tetap dikuatkan dalam pelayanan.
Hari ini, marilah kita bertanya kepada Tuhan: siapa yang Tuhan tempatkan di sekitar saya? Mungkin mereka datang dari tempat yang jauh, tetapi sesungguhnya Tuhan sedang mendekatkan mereka supaya mereka dapat mengenal Dia melalui hidup kita.